Selasa, 23 Agustus 2011

Cinta Itu Kesabaran

Cinta Itu Kesabaran

By: M. Agus Syafii

Cinta itu kesabaran, karena kita mudah terluka justru oleh orang yang kita cintai. Semakin besar cinta kita padanya semakin terasa perih dan terluka hati kita akibat perbuatannya. Semakin besar luka dan derita maka semakin besar kekuatan dan kesabaran yang anda butuhkan. Luka perih itu juga terjadi pada seorang ibu, suaminya bukanlah imam yang baik di dalam keluarga. Tidak pernah sholat lima waktu dan kegemaran minum-minuman keras hampir menjadi kebiasaan. Ditengah kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Semakin membuat dirinya lebih mendekatkan diri kepada Allah. Anak-anaknya dibimbing dijalan Allah. Sekalipun tidak mudah, tidak membuatnya menyerah. 'Allah Maha Pengasih, akan membukakan pintu hati suamiku,' Itulah yang selalu terucap di dalam hatinya. Banyak orang-orang disekitarnya yang menganjurkan untuk meninggalkan saja suami seperti itu, tidak pantas menjadi kepala rumah tangga apalagi istri sebaik dirinya. Istri yang setia itu memilih tetap tegar
dan bersikukuh untuk menjaga dan merawat suami dan anak-anaknya.

Sebagai seorang istri menyadari semakin dalam cintanya pada suami maka semakin perih luka dihatinya, namun luka itu juga mengajarkan tentang ketulusan dan pengorbanan demi kebahagiaan orang yang dicintai, karena cinta yang hakiki bukan dilewati dengan pujian, cinta yang hakiki justru diuji dengan berbagai peristiwa yang menyakitkan yang membuat hatinya terluka. Allah membentuk dan melatih melalui luka itu, bukan pada seberapa besar luka itu tetapi seberapa besar cinta yang dimiliki untuk menjalani luka itu. Kalau cintanya kecil, luka kecilpun menjadi beban yang berat. Namun dirinya memiliki kekuatan cinta yang besar, luka sebesar apapun maka dirinya mampu menanggung luka dan derita yang dialaminya untuk meraih keridhaan Allah.

Ditengah luka dan derita yang ditanggungnya, beliau datang & bershodaqoh di Rumah Amalia dengan harapan shodaqohnya menjadi jalan untuk meraih keridhaan Allah agar berkenan membukakan pintu hati suaminya. Sampai suatu hari sang suami jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit karena menderita sakit lever yang dideritanya cukup parah harus segera dioperasi, dalam kondisi yang mencekam itu  membukakan hati suaminya, sebuah kesadaran untuk menuju jalan Allah yang selama ini diabaikannya. Air matanya mengalir mendengar suara suaminya yang terus menerus beristighfar ditengah terbaring lemah pasca operasi. Doa dan perjuangan yang dilakukan telah membuahkan hasil. Suaminya telah kembali menjadi imam di dalam rumah tangga, membimbing istri dan anak-anaknya di jalan yang diridhai oleh Allah.

Wassalam,
M. Agus Syafii

Idul Fitri & Mudik

Idul Fitri & Mudik
Komaruddin Hidayat

Idul Fitri dan mudik mempunyai paralelisme makna. Idul Fitri artinya kembali pada fitrah.
Mudik adalah peristiwa budaya yang menyertainya yang terkait dengan aspek psikologis.
Ada dorongan-kerinduan yang kuat untuk pulang menapak tilas tempat lahir, tempat
yang menyimpan memori pada masa anak-anak, remaja.

Di Indonesia momentum idul fitri dan mudik didukung pembenaran teologis untuk menyampaikan
bakti, permohonan maaf kepada handai tolan khususnya orang tua.
Esensi mudik relevan dengan sifat manusia yang suka ber-festival. Festival itu bersifat masif,
melibatkan banyak orang. Maka di sana terjadi pemuatan dan penyampaian pesan keagamaan
secara implisit.
Misalnya saja, ibadah haji diwarnai dengan kegiatan mengenang Nabi Ibrahim. Itu adalah bagian
dari proses pengayaan batin. Mudik juga demikian merupakan acara festival. Saat itu peristiwa
agama hadir untuk memberi makna pada kultural, akhirnya semua saling menguatkan dalam
sebuah festival-perayaan.

Mudik juga mengandung aspek sosial yang sangat potensial jika diarahkan sebagai gerakan
nasional untuk mengawetkan budaya. Ada penguatan budaya yg memberi nilai tambah pada
mudik itu sendiri.
Misalnya saja sewaktu pulang kampung diadakan reuni sekolah untuk menyumbang buku;
gerakan sosial menghimpun dana pendidikan untuk pendidikan anak-anak yang terpaksa putus
sekolah karena kendala biaya. Dengan demikian mudik bisa lebih produktif dan bernilai sosial.
Daripada sekedar pamer kekayaan dan memancing orang untuk melakukan urbanisasi.

Mudik berdimensi sosial ekonomi dan politik.
Pemerintah seharusnya menyediakan infrastruktur yang memadai guna memperlancar arus mudik.
Berkumpulnya masyarakat kota di desa dalam suasana lebaran membangun penyadaran akan
ketimpangan pembangunan antara kota dan desa. Diharapkan akan muncul kesetiakawanan sosial.
Mobilitas manusia yang masif akan berdampak perputaran uang dari kota ke desa.
Jadi kerusakan jalan pada jalur mudik yang setiap tahun menyita perhatian semestinya tidak perlu
terjadi jika pemerintah memahami pentingnya mudik.

Selamat Mudik! Semoga selamat sampai ditujuan! [lm-28/11]

[Sumber lengkap : Liburan-Mudik Mengawetkan Budaya
Komaruddin Hidayat - Rektor UIN Syarif Hidayatullah untuk KOMPAS]